Sejarah

Tugu Suroto Kunto Saksi Sejarah Yang Terlupakan

By

on

Karawang, revolusi.news – Tugu Suroto Kunto, Terdapat wajah serdadu di patung itu seolah tengah meradang, berteriak kesakitan. Tangan kanannya memegang senapan, sementara tangan kiri menjinjing dua helm prajurit. Di dekatnya sesosok patung prajurit rebah menggelimpang.

Monumen dalam bentuk patung itu adalah tugu Suroto Kunto. Ia seorang letnan kolonel di Divisi Siliwangi, berusia 24 tahun. Letkol Suroto dinyatakan hilang pada 28 November 1946, diculik sekelompok pasukan di daerah Warungbambu, Karawang.

 

Suroto Kunto kini menjadi nama sebuah jalan yang membentang dari Cinangoh, batas timur Kota Karawang, memanjang sekitar dua km sampai daerah Warungbambu. Di lokasi monument itulah diyakini sebagai tempat Letkol Suroto serta tiga anak buahnya, Mayor Adel Sofjan, Kopral Muhajar dan prajurit Murod yang menjadi sopir, diculik.

Siapa penculiknya? Tampaknya kita harus menerawang ke masa lalu. Tahun 1946, Karawang dan Bekasi dijadikan wilayah Resimen Militer untuk menghadapi  agresi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Saat itu muncullah laskar-laskar rakyat yang menolak bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI).

Kondisi itu dimanfaatkan Belanda, dengan menjadikan mereka kelompok-kelompok bersenjata yang terus merongrong dan mengacaukan TRI, terutama Divisi Siliwangi.

Menurut penuturan Kapten Suwardjono Surjaningrat yang terekam dalam sebuah buku, sehari sebelum dilaksanakannya gencatan senjata dengan Belanda, Letkol Suroto bersama tiga orang stafnya melakukan inspeksi pasukan ke daerah Cibarusah, selatan Bekasi. Setelah ditunggu hingga keesokan harinya, Letkol Suroto beserta anak buahnya tidak kunjung tiba di markas.

TRI pun segera melakukan pencarian. Pasukan dikerahkan, menyisir semua area untuk menemukan Letkol Suroto cs. Pencarian itu berhenti saat mobil Ford yang terakhir kali digunakan Letkol Suroto bersama tiga anak buahnya ditemukan. Saat itu mobil berada di tepi jalan di area Warungbambu, kunci kontaknya masih menggantung.

Letkol Suroto dan tiga anak buahnya tidak pernah kembali. Diduga kuat, ia dan kawan-kawan diculik dan dibunuh gerombolan bersenjata. Di mana, tidak jelas. Atas dasar itu, Brigjen Daan Yahya yang menjabat komandan resimen, bersama Jendral A.H Nasution menyatakan, Letnan Kolonel Suroto Kunto bersama tiga orang stafnya telah gugur.

Untuk mengenang peristiwa penculikan itu, tepat di lokasi mobil Ford ditemukan, sebuah monument pun didirikan. Monumen peringatan itu diresmikan KSAD Kol. A.H Nasution pada 10 November 1951. Pada mulanya monumen peringatan itu berbentuk tugu, dengan hiasan bintang lima di puncaknya.

Di bagian bawah monument itu tertulis :

“Tugu Peringatan Dalam Tugas Perdjuangan Kemerdekaan. Telah hilang di tempat ini pada tanggal 28 Nopember 1946: Suroto Kunto (Letkol / Komandan), Adel Sofjan (Major / Kepala Staf), Muhajar (Kopral) dan Murod (Pradjurit) Resimen 6 Brigade III Divisi Siliwangi”.

Lebih setengah abad kemudian, monumen tersebut dibongkar. Pada 2008  lalu dibangun monumen baru berbentuk patung prajurit berwarna kuning keemasan, dalam posisi siap tempur dan ekspresi yang meradang.

Pada Minggu, 18 Mei 1980, prajurit Siliwangi melakukan upacara ‘pemakaman syarat’, dengan menggali tanah di lokasi hilangnya Letkol Suroto. Tanah galian tersebut untuk kemudian dibawa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Editorial : (Tim Redaksi)
Copyright © 2018 . Media Revolusi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *