Investigasi

PT Atlasindo “BEROPERASI SEPERTI BIASA”

By

on

sampai hari ini PT Atlasindo masih terus beroperasi

Karawang, revolusi.news – Peryaataan Bupati Karawang, Cellica yang dilanjutkan penandatanganan surat kesepakatan bersama  pada hari Rabu 09/05/2018, pada saat aksi  ujuk rasa yang dilakukan oleh mayoritas aktivis lingkungan hidup, ditambah dengan gabungan elemen masyarakat di depan Gedung Pemerintah Kabupaten Karawang, namun sampai hari ini PT Atlasindo masih terus beroperasi.

Isi Dari Surat kesepakatan tersebut :

“Saya Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana menyetujui aspirasi masyarakat Karawang”

  1. Menolak kegiatan usaha pertambangan di Gunung Sinalanggeng yang dilakukan PT Atlasindo.
  2. Bersedia menggugat Surat Keputusan Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPTSP) Provinsi Jawa Barat tentang persetejuan IUP PT Atlasindo.
  3. Mendorong PT Atlasindo memenuhi kewajibannya untuk merehabilitasi lahan pasca pertambangan.

Tetapi melahirkan cerita baru yang sangat dilematis bagi masyarakat Tegal Waru  yang menggantungkan hidup di pertambangan, ditengah sulitnya mencari pekerjaan akibat tidak mampunya pemerintah daerah dalam memperjuangkan PERDA 60%, Pribumi (Penduduk Lokal) dan 40% Pendatang (Transmigran).

Berdasarkan informasi yang kami dapat, Masyarakat Tegal Waru, yang bekerja di pertambangan tersebut mencapai 135 orang sebagai karyawan tetap, ditambah para supir serta kuli muat, maka bisa kita kalkulasikan kurang lebih 1200 orang yang menggantungkan hidup sebagai mata pencaharian dari pertambangan PT Atlasindo.

Menurut salah satu warga yang kami hubungi via telepon selular bahwa, sebagian dari mereka sudah bekerja sangat lama sebagai penambang batu. Bahkan ada yang sampai 16 tahun, sejak masih dikelola oleh pihak Desa setempat dan masih dengan cara tradisional.

“Kami meyadari betul tidak sepenuhnya apa yang kami kerjakan saat ini. Tidak sepenuhnya  benar,akan tetapi apa boleh buat hanya pekerjaan ini yang bisa kami kerjakan  untuk menunjang kehidupan keluaga, disamping sulitnya mencari pekerjaan untuk kami yang sangat minim pengetahuan” Ungkapnya.

Terkait  penolakan  kegiatan usaha pertambangan di Gunung Sinalanggeng yang dilakukan PT Atlasindo, mereka mengaku pasrah, dan hanya berpesan “agar Pemerintah Daerah tetap mempertimbangkan dan tetap memperhatikan kehidupan mereka, serta jangan sampai meyelesaikan masalah dengan melahirkan masalah yang baru karena kami punya anak yang harus kami nafkahi”.

Editorial : (Tim Redaksi)
Copyright © 2018 . Media Revolusi

Recommended for you

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *