Sosial

Kerja Keras Para Jurnalis, Tak Libur Meski Idhul Fitri

By

on

Jakarta, revolusi.news – Kerja keras para jurnalis terlihat saat hari raya Idul Fitri, Jumat (15/6/2018). Di saat masyarakat yang lain berlebaran bersama keluarga, para jurnalis ini sibuk meramu berita.

Kerja Keras Para JurnalisJurnalis termasuk salah satu profesi yang tidak mengenal waktu. Tak jarang para pencari berita ini meninggalkan keluarga demi mewartakan berita untuk masyarakat.

Mereka mengabarkan peristiwa terkini seputar Hari Raya besar umat Islam tersebut.

Wartawan sebuah koran di Jakarta, Yendi salah satunya. Yendi sudah pernah mengalami tak berlebaran bersama keluarga karena meliput berita.

Termasuk tahun ini. Kali ini, dia hanya bisa mengingat kala masih dapat mudik Lebaran tahun-tahun sebelumnya bersama istri dan anak ke Magelang, untuk berkumpul bersama keluarga.

Momen yang paling diingat yakni bisa bermaafan dan sungkem kepada orangtua.

“Jadi, kalau pulang ke kampung itu ada momen ketika anak sungkem ke orangtuanya. Semuanya ngumpul situ, mulai dari anak paling kecil, sampai ke Mbahku. Nah, di situ semuanya nangis, he-he-he,” kenang Yendi, saat berbincang dengan Kompas.com.

Jumat pagi tadi, Yendi bahkan tak sempat mengucapkan selamat Lebaran kepada anak dan istrinya secara langsung, karena harus berangkat subuh melakukan peliputan shalat id di Masjid Istiqlal.

“Anak saya sampai ngambek, enggak mau video call tadi,” kata dia sembari tertawa.

Namun, Yendi menilai apa yang dialaminya merupakan resiko dari profesi jurnalis. Orangtua dan istri Yendi lambat laun menerima dan mengerti dengan profesi yang dia jalani.

“Ya pingin kayak orang lain juga, tapi di satu sisi ya kita kerja, karena ini profesi ya, sudah jadi tanggung jawab,” ujar Yendi.

Hal senada disampaikan Ika, salah satu jurnalis dari media online di Jakarta. Tahun ini, Ika tidak bisa berlebaran bersama kelurga karena tugas peliputan.

Momen yang paling diingat Ika saat Lebaran ketika bisa berkumpul bersama keluarga. Pada hari biasa, momen tersebut sangat sulit didapatkan karena kesibukan masing-masing.

Tahun ini, Ika ditinggal mudik oleh keluarganya yang berangkat ke Solo. Untuk menahan tangis, Ika lebih memilih untuk memberikan ucapan Lebaran melalui pesan singkat dibanding harus menghubungi keluarganya via telepon.

“Sedih lah ditinggal pulang, makanya enggak nelepon, takutnya nangis. Kalau Lebaran itu, makan ketupat bareng, lalu subuh itu sudah ramai. Kalau hari biasanya kan semua sibuk masing-masing,” ujar Ika.

Hal lain yang diingat Ika ketika seluruh keluarga berjalan bersama-sama pergi shalat id ke masjid, sambil berbincang santai.

Ika menilai, seluruh resiko tersebut merupakan hal yang harus dihadapi ketika memilih profesi menjadi jurnalis.

“Kan memang sudah resiko, tanggung jawab kita sebagai jurnalis jadi harus dijalani,” ujar Ika.

Fajri, wartawan dari salah satu media online ini juga menyampaikan hal serupa. Fajri merupakan warga asli Lamongan, Jawa Timur yang merantau ke Jakarta.

Lebaran tahun ini, Fajri memutuskan tidak pulang karena tugas peliputan ke Masjid Istiqlal.

“Berat sebenarnya, apalagi aku anak tunggal, orangtua pasti pingin (saya) pulang. Kalau dibilang nyesal jadi jurnalis, enggak nyesel lah, ini kan pekerjaan media. Ya anggap saja emak-emak di Istiqlal itu emakku sendiri, he-he-he. Tapi, tadi sudah telepon orangtua kok,” ujar Fajri.

Bagaimana pengalaman menarik seputar liburan Anda ? Ceritakan pengalaman dan foto Anda dengan mengirim e-mail ke [email protected] Pengalaman Anda bisa jadi berguna bagi pembaca revolusi.news lainnya. Jangan lupa sertakan nomor seluler Anda agar bisa kami hubungi!

Editor : Redaksi
Sumber : kompas.com
Copyright ©2018 Media Revolusi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *